Takdir?

Matahari mulai terbenam, sayap-sayap burung mulai dikepakkan menuju ke tempat persinggahan. Di balik cahayanya yang mulai suram, aku berjalan menghampiri kesunyian. Kubuka mataku lebar dan kusibakkan seluruh asam garam kehidupan. Mencari hikmah atas apa yang takdir nyatakan.

Meski sulit mata mencerna dan hati berbicara. Aku yakin suatu saat nanti aku dapat memahaminya. Perkara demi perkara yang berirama dalam kehidupan nyata. Bagai simfoni yang disusun rata oleh kuasa-Nya.

Aku berjalan dan terus berjalan. Menuju kesunyian di ujung jalan. Berharap akan bertemu jiwa lain yang bertualang. Menemani hingga ujung perjalanan.

Ujian di Awal Ramadhan

Tidak semua yang kamu rasa kamu miliki akan tetap berakhir menjadi milikmu. Itulah sebuah pelajaran yang aku petik baru-baru ini. Ramadhan ini, aku rasa cukup berat. Bukan karena aku tidak dapat menahan lapar atau haus, tapi karena kurang dapat menahan ujian yang lain.

Semua bermula kurang lebih seminggu sebelum Ramadhan tiba, pada awalnya kehidupanku baik-baik saja dan bahkan cenderung menyenangkan. Seperti yang aku tulis di sebuah pos yang lalu, aku mendapatkan pekerjaan baru yang cukup menjadi bekal untukku melanjutkan perjalanan hidupku ke jenjang selanjutnya. Ya, awalnya semua terasa begitu menyenangkan dan aku begitu bersemangat. Namun, di sinilah Allaah mulai memainkan dadu-Nya dan memberikan ujian yang begitu mengguncangkan. Beberapa aspek di dalam hidupku yang penting mulai runtuh dan meninggalkanku satu per satu. Dari orang-orang yang dicintai hingga orang yang sudah aku anggap seperti sahabat sendiri (ini mungkin pengakuan sepihak sih). Pada akhirnya, aku tidak mendapatkan apa-apa dan hanya kekecewaan yang mendalam yang aku dapatkan.

Berminggu-minggu waktu yang aku siakan karena permasalahan-permasalahan ini. Aku terlalu memikirkan semua permasalahan ini hingga tubuhku serasa tidak ingin merawat dirinya sendiri karena terlalu fokus kepada permasalahan.

Sampai detik ini sebenarnya aku masih mempertanyakan banyak hal, kenapa mereka tiba-tiba meninggalkanku? Apa karena aku annoying? Atau aku terlalu kaku? Atau karena kesalahanku yang lain? Kalau saja ada orang yang mau mengatakan apa sebenarnya yang menjadi masalah dia denganku secara terang-terangan, sebisa mungkin aku akan mengubahnya.

————————————————-

Bila menilik kepada kejadian awal Ramadhan ini, sungguh aku ingin berbagi kepadamu suatu hal. Sebuah pelajaran yang bukan hanya berlaku untukmu, tapi untukku juga. Dalam keadaan apapun, dan ketika hendak memulai apapun, selalu ingatlah hal-hal ini:

  1. Allaah selalu menjadikan setiap peristiwa, bahkan takdirmu yang mungkin kamu anggap menyesakkan dada ini sebagai ujian. Lihatlah bagaimana Dia mengingatkanmu dalam Surah Al Mulk ayat 2, lalu Surah Al Baqarah ayat 155.
  2. Ingatlah bahwa kamu tidak memiliki apa-apa di bumi ini, semuanya hanya titipan. Kapanpun Dia ingin mengambilnya, maka itu hal yang mudah bagi-Nya. Lihatlah bagaimana Dia mengingatkanmu mengenai konsep itu di akhir Surah Al Baqarah ayat 156.
  3. Kesabaran akan dibalas dengan kebaikan dan keberuntungan. Bukan hanya 1 kebaikan, namun dua kebaikan pada setiap kesulitan yang diberikan kepadamu. Lihatlah bagaimana indahnya Dia memberitahukan kepadamu di Surah Al Insyirah ayat 5-6 serta Al Baqarah ayat 156.
  4. Dengan ujian kehilangan banyak hal yang kamu cintai, maka sesungguhnya itu tanda sayangnya kepadamu. Dia tidak ingin kamu berpaling dari-Nya. Karena begitulah cara-Nya menunjukkan kasih sayangnya untukmu, untuk hamba yang Allaah sayang. Lihatlah bagaimana Dia mengingatkanmu dalam Surah Ali Imran ayat 92 mengenai pahala yang besar saat kamu mengikhlaskan sesuatu yang kamu cintai.
  5. Allaah lebih mengetahui mana yang baik bagimu dan mana yang kurang baik bagimu, dan Allaah kuatkan itu dalam potongan ayat terakhir dalam surah Al Baqarah ayat 216 mengenai hal tersebut.
  6. Janganlah berkecil hati, ujian yang diberikan kepadamu itu belum seberapa, mungkin bagimu itu adalah perkara yang besar. Namun cobalah lihat kepada yang lain, masalahmu itu hanyalah masalah kecil dan tidak ada apa-apanya. Allaah juga mengingatkan dalam Surah Al Baqarah ayat 214 bahwa sebelum kita terdapat suatu ummat yang diuji Allaah hingga Nabi dan orang-orang beriman di antaranya merasa payah dan berdo’a dan menanyakan “Kapan (datangnya) pertolongan Allaah?”. Bisa dibayangkan betapa beratnya ujian hingga manusia sekelas Nabi pun sudah mulai kekurangan rasa sabar dan menanyakan hal tersebut.

Bila kamu mempunyai masukan untukku mengenai hikmah dalam kejadian yang mengharuskan untuk melapangkan dada dalam setiap urusan, beritahukan kepadaku. Akan sangat berbahagia bila aku mempunyai saudara yang saling mengingatkan di dalam jalan dakwah dan Islam. 🙂

Penantian & Perpisahan

Apa kamu tahu, mengapa dunia ini terlihat begitu indah saat kamu mengetahui bahwa semuanya akan berakhir?

Kemarin lusa, aku mengamati bagaimana suasana sore hari di taman lingkar tempatku bekerja. Aku hampir tidak percaya, aku sudah bekerja di tempat ini selama dua tahun dan baru kali ini aku benar-benar menghabiskan waktu hanya untuk duduk dan melihat orang-orang berlalu lalang di taman itu. Suasana sore itu terasa begitu hangat, orang-orang bercengkerama satu sama lain, berkumpul dengan teman-temannya dan terlihat begitu bahagia dengan kehidupannya. Pun begitu denganku, meski aku sendirian, entah kenapa aku merasa ikut berbahagia.

Manusia yang Berjalan Telanjang

Pernah terpikirkan betapa mudahnya dunia ini bila data tentang semua manusia itu dipublikasikan secara daring dan aksesnya tidak dibatasi? Manusia akan lebih mudah saling mengenal dan juga mengetahui bagaimana mereka harus bersikap ketika mereka bertemu dengan orang yang akan mereka hadapi. Dari data yang didapat, manusia bisa menganalisis apa yang harus dan tidak harus dia lakukan terhadap sesorang. Aku pikir ini akan lebih efisien, memiliki informasi mengenai orang yang akan dihadapi dan tidak perlu repot menggali informasi dari mereka sebagai bahan bicara. Bisa langsung berbicara ke poin utama tanpa harus berbasa-basi dan menghemat waktu masing-masing. Itu sisi positifnya. Continue reading Manusia yang Berjalan Telanjang

Kerisauan di Awal Malam

Malam ini, malam yang cukup tenang, tidak setenang biasanya. Di jalanan depan kosan, biasanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang, namun sepertinya tidak berlaku untuk malam ini. Sunyi dan senyap. Aku seperti biasa terduduk di kamar. Sudah beberapa hari ini merasakan suatu perasaan aneh yang berkecamuk di dalam pikiran. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.

Semua berawal dari beberapa hari yang lalu, aku datang ke tempat kerjaku dan melihat di atas meja kerja terdapat beberapa lembar kertas yang bertumpuk tidak teratur. Lemabaran kertas itu berisi beberapa tugas dan pekerjaan yang harus aku kerjakan sendiri. Teman seruanganku yang biasa dipanggil sebagai “Bapak Manajer” pada hari itu tidak terlihat. Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu dia mengerjakan proyek di suatu daerah di Sumatra, sehingga selama dia pergi, aku lah yang bertanggung jawab mengerjakan semua pekerjaan divisiku. Beberapa tugas memang sudah selesai, namun lagi-lagi aku tidak menyangka masih ada begitu banyak tumpukan tugas yang bersarang di atas meja kerjaku. Hal seperti ini rasanya membuatku cukup frustasi, rasanya tidak pernah ada pekerjaan yang selesai. Setelah satu selesai, datang yang lain lagi, dan siklus itu akan terus berulang hingga mati (atau setidaknya hingga kita meninggalkannya). Continue reading Kerisauan di Awal Malam

Toga Wisuda

ilustrasi-wisuda

Rasa putus asa kadang menghampiri kehidupanmu dengan cara yang tidak terduga. Seperti kebahagiaan, keputus asaan pun selalu menemukan cara untuk masuk ke dalam kehidupanmu. Beberapa waktu yang lalu aku sempat melihat foto temanku yang diwisuda, mereka terlihat tampan dan cantik mengenakan busana khas wisuda dan juga toga yang menjadi kebanggaan mereka. Dihiasi dengan nama universitas yang melekat kepada busana tersebut, mereka tersenyum lebar dan penuh kepuasan setelah menyelesaikan pendidikan strata satu mereka. Di satu sisi aku merasakan kebahagiaan yang mereka tularkan melalui cuplikan gambar yang mereka kirim kepadaku. Namun tiba-tiba perasaan itu berubah dalam beberapa menit kemudian. Seperti yang aku ceritakan di awal, keputus asaan bisa datang kapanpun dia mau, aku mulai merasakan sebuah perasaan yang aneh setelah melihat foto itu. Continue reading Toga Wisuda