Rintik Hujan

Pagi ini terasa berbeda daripada pagi-pagi sebelumnya. Semenjak subuh tadi, hujan terus turun dari langit. Entah apa yang ditangisinya, entah siapa yang membuatnya menangis. Sejenak, aku merasa kedinginan, bulu kudukku berdiri. Aku mencoba membuka kedua mataku lebih lebar dan mulai beranjak dari tempat dudukku untuk mengambil air wudhu. Sejuk dan dingin, rasa itulah yang pertama kali aku rasakan saat air itu menyentuh permukaan kulitku. Selesai berwudhu, aku gerakkan tubuhku untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu shalat.

Mataku masih segar selepas wudhu dan sholat tadi, namun tiba-tiba suasana hatiku berubah. Hujan yang deras di pagi hari membawaku ke sebuah kenangan. Kenangan di mana aku masih bersama Ayah dan Ibuku, tinggal di sebuah desa kecil dengan adikku. Pada waktu itu, aku hanya memiliki seorang adik. Pagi itu, sama seperti pagi ini, waktu subuh yang diiringi dengan suara halilintar yang menyambar dan tetesan hujan yang tiada hentinya turun dari langit. Tubuh kecilku ketakutan, pikirku aku akan mati karena halilintar yang begitu keras. Ibuku yang saat itu melihatku ketakutan segera menghampiriku. Aku pun secara tiba-tiba langsung memeluk ibuku dengan pelukan tererat yang pernah aku lakukan. Aku menangis ketakutan, aku takut aku akan direnggut oleh halilintar itu. Aku takut kalau aku tidak bisa bersama ibuku lagi. Aku takut tidak bisa menjaga ayahku dan adikku. Mataku berkaca-kaca. Hujan rintik, diiringi banjir sendu di mataku. Ibuku mengelus kepalaku. Menenangkanku dengan belaian tangan besarnya. Aku pun tertidur kembali.

Mengingat semua itu membuatku merindukan ibuku. Di saat aku sedih, di saat aku merasakan kegundahan yang dalam, beliau selalu hadir untuk menenangkan. Aku tahu, akan tiba saatnya bagiku untuk berpisah dengan beliau, aku harap di saat itu datang, aku sudah menjadi pria yang tangguh. Aku harap beliau selalu sehat dalam masa hidupnya. Semoga Allaah selalu melindungimu, Ibu. Semoga Allaah selalu melindungimu, Umiku tercinta.

——————
Depok, 8 Agustus 2016
Subuh Penuh Rintik Hujan

Advertisements

Published by

Ahmad Saifuddien

Aphantasia absurd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s