Kerisauan di Awal Malam

Malam ini, malam yang cukup tenang, tidak setenang biasanya. Di jalanan depan kosan, biasanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang, namun sepertinya tidak berlaku untuk malam ini. Sunyi dan senyap. Aku seperti biasa terduduk di kamar. Sudah beberapa hari ini merasakan suatu perasaan aneh yang berkecamuk di dalam pikiran. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.

Semua berawal dari beberapa hari yang lalu, aku datang ke tempat kerjaku dan melihat di atas meja kerja terdapat beberapa lembar kertas yang bertumpuk tidak teratur. Lemabaran kertas itu berisi beberapa tugas dan pekerjaan yang harus aku kerjakan sendiri. Teman seruanganku yang biasa dipanggil sebagai “Bapak Manajer” pada hari itu tidak terlihat. Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu dia mengerjakan proyek di suatu daerah di Sumatra, sehingga selama dia pergi, aku lah yang bertanggung jawab mengerjakan semua pekerjaan divisiku. Beberapa tugas memang sudah selesai, namun lagi-lagi aku tidak menyangka masih ada begitu banyak tumpukan tugas yang bersarang di atas meja kerjaku. Hal seperti ini rasanya membuatku cukup frustasi, rasanya tidak pernah ada pekerjaan yang selesai. Setelah satu selesai, datang yang lain lagi, dan siklus itu akan terus berulang hingga mati (atau setidaknya hingga kita meninggalkannya).

Siang itu, aku mengerjakan semua berkas dan scratch desain semampuku, sambil mengais sisa semangat yang masih tercecer entah di mana. Di saat mengerjakan hal itu tiba-tiba aku mendapatkan kabar dari salah seorang teman mengenai kesibukannya di hari itu. DIa saat ini sedang menjalani pendidikan profesi di salah satu universitas terkemuka di Jawa Barat. Dia menceritakan setiap detil kegiatannya dan rencana kegiatan untuk beberapa bulan ke depan. Aku tidak langsung membalas pesan itu, aku terdiam sejenak. Melihat pesan seperti itu, aku merasa seperti ada dalam sebuah kompetisi (lagi). Sebuah kompetisi besar di mana aku menjadi orang yang tertinggal jauh di belakang. Aku lalu membalas pesan itu dengan kata-kata, “Mantap. Semangat ya. Kamu pasti bisa melakukan semua.”. Aku meninggalkan kesan bahwa aku mendukungnya dan aku turut bahagia atas kesuksesan yang dia capai pada hari ini. Turut bangga dengan rencana pendidikannya ke depan. Namun, di sisi lain aku merasa kalah. Kalah karena aku sendiri tidak memiliki rencana untuk beberapa bulan ke depan atau bahkan untuk esok hari. Menjalani hari dengan jiwa yang kosong dan tanpa ada semangat. Sebagian orang menyalahkan aku dengan kata kata seperti,”Hey, temanmu saja bisa begitu, kenapa kamu ga bisa?” atau seperti,”Kamu kan dulu pintar bisa ini bisa itu, kok sekarang malah ga jadi apa apa? Useless  banget sih!”. Ah, dunia memang melelahkan, manusia memang menguras tenaga. Mendengarkan omongan mereka seperti tidak ada habisnya, sama seperti masalah dan pekerjaan.

Dimulai pada hari itulah aku mulai merasa tambah jatuh lagi. Ya, bukan hal menarik untuk diceritakan memang, bukan hal yang patut dibanggakan juga. Sekalian mumpung blog ini juga belum banyak follower nya, aku bisa bercerita sepuasnya mengenai diriku sendiri. Aku hanya bisa bercerita kepada sebuah jaringan yang berada di dalam dunia yang maya dan bercerita kepada orang-orang yang tidak hadir pada kehidupanku yang nyata.

Orang datang dan juga pergi, lalu lalang seperti kendaraan yang melewati jalanan depan kosku setiap pagi. Mereka datang dan pergi untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Lalu bagaimana denganku? Aku masih disini, menunggu satu hal yang pasti yang selalu aku takuti. Menunggu kawan yang pasti akan menghampiri, tidak berwujud namun sangat mengenali jiwa ini. Kawan lamaku, kawan lama kita, Izrail sang pembawa mati.

Advertisements

Published by

Ahmad Saifuddien

Aphantasia absurd.

2 thoughts on “Kerisauan di Awal Malam”

  1. Ngerinya, perasaan kalah itu bisa saja tidak berkurang walaupun orang lain sudah berkata, “Mantap! Kamu hebat!” Kapan kah kita akan jadi cukup baik untuk diri sendiri?

    Tentunya kamu menulis ini lebih untuk diri sendiri ketimbang orang lain. Apakah kemunculanku akan semakin mengganggu? Sambil bertanya-tanya, aku menekan tombol ‘send’ juga akhirnya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s