Toga Wisuda

ilustrasi-wisuda

Rasa putus asa kadang menghampiri kehidupanmu dengan cara yang tidak terduga. Seperti kebahagiaan, keputus asaan pun selalu menemukan cara untuk masuk ke dalam kehidupanmu. Beberapa waktu yang lalu aku sempat melihat foto temanku yang diwisuda, mereka terlihat tampan dan cantik mengenakan busana khas wisuda dan juga toga yang menjadi kebanggaan mereka. Dihiasi dengan nama universitas yang melekat kepada busana tersebut, mereka tersenyum lebar dan penuh kepuasan setelah menyelesaikan pendidikan strata satu mereka. Di satu sisi aku merasakan kebahagiaan yang mereka tularkan melalui cuplikan gambar yang mereka kirim kepadaku. Namun tiba-tiba perasaan itu berubah dalam beberapa menit kemudian. Seperti yang aku ceritakan di awal, keputus asaan bisa datang kapanpun dia mau, aku mulai merasakan sebuah perasaan yang aneh setelah melihat foto itu. Seolah ada setan yang masuk ke kepalaku lalu membisikkan,”Ah Ahmad, kau seharusnya bisa melakukan hal yang sama seperti itu, harusnya kamu itu wisuda sekarang! Kamu harusnya bisa wisuda dan membanggakan orang tuamu, ada apa dengan semua ini ha?!”. Aku terdiam. Aku terus memikirkan hal tersebut dalam beberapa menit setelahnya yang akhirnya membawaku kepada perasaan marah kepada diri sendiri. Kenapa bisa gagal, kenapa bisa seperti ini, kenapa bisa aku jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Aku mulai menghantam setiap bagian yang bisa ku sentuh dari kamarku. Tembok, kardus, kipas angin dan bahkan lemari yang ibu pemilik kos letakkan di kamarku. Aku berteriak di tengah malam seperti serigala yang melolong dalam kesepian. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan rencana apa yang harus aku buat agar aku bisa menyusul mereka. Aku tidak bisa kembali ke masa lalu kemudian memperbaikinya. Satu hal yang bisa aku lakukan hanyalah menerima semua ini, berdamai dengan perasaan yang sebenarnya tidak pernah bisa membuatku tenang.

Hingga sekarang pun aku juga belum bisa membuat diriku tenang. Aku masih terbayang betapa sakitnya melihat kemenangan temanku. Aku tidak tahu apakah hatiku yang bermasalah atau memang wajar jika melihat temanmu bahagia sedangkan kamu tertinggal kemudian kamu marah karena kamu sendiri tidak mencapai apapun. Sekarang di malam yang sepi ini aku hanya bisa duduk terdiam sendiri dan mengatakan kepada langit, bahwa aku ingin mengulang waktu yang sudah kubuang. Aku ingin ikut berlari saat temanku yang lain juga berlari. Bukan seperti ini, tertinggal dari kawananku dan berjalan sendiri dengan kaki yang bersimbah darah.

Advertisements

Published by

Ahmad Saifuddien

Aphantasia absurd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s